Senin, 18 Mei 2015

Sinopsis The Pirates part 1


Pagiiii....
Aduh...br sempet bikin movie recaps lagi ini. Lagi lumayan sibuk sama kantor. Ok, film kali ini settingnya jaman baheula. Tahun 1300 an, era Joseon. Awalnya saya kurang begitu minat aja nntn ini, tapi ternyata lucu bgt. Ini pertemuan Kim Nan Gil sama Son Hye Jin yang kedua setelah drama Shark. Sesuai dengan judulnya, film ini ceritanya tentang para perompak. Yaahh..namanya perompak tapi jgn harap mereka seram. Banyak lucunya. Kl kalian sudah pernah nntn Jack Sparrow nya om saya, Jonny Deep, mirip mirip itu lah. Selamat membaca ya.

Pengenalan Karakter
 Kim Nan Gil sebagai Jang Sa Jeong

Son Hye Jin sebagai Yeo Wol
 Yoo Hae Jin sebagai Chael Bong

Lee Kyeong Yeong sebagai So Ma
Kim Tae Woo sebagai Mo Hong Gap

Pulau WihWa di sungai Amrok, 1388

Di kamp prajurit Joseon, Kepala Perwira Mo Hong Gap, berjalan didepan Ja Sa Jeong dan Hwang Joong Geun, dua anak buah sekaligus teman baiknya menuju tenda Jendral Lee Seong Gye. Jendral mengumpulkan para perwiranya malam itu. Mereka berencana mengkudeta dan menguasai kerajaan Goryeo. Dan saat fajar nanti, mereka akan menyerbunya. Ja Sa Jeong heran. Dia memprotes ke Mo Hong Gap, tapi tidak di gubris. Kebetulan sang Jendral mendengar Sa Jeong ribut dibelakang. Dia memanggilnya maju dan menyuruh mengatakan pendapatnya. Sa Jeong bertanya kenapa mereka tidak melawan saat mereka hampir tiba disana.
Jendral Lee Seong Gye "kau belum mendengarnya? Kita mundur karena pertama, sulit menyebrangi sungai ditengah hujan, kedua saat hujan akan membuat panah kita berkarat, ketiga kapal pemasok logistik mubgkin tidak bisa datang dan kita terjebak disini, keempat tidak sopan negara kecil menyerang negara besar".
Mendengar semua alasan sang Jendral, dia jadi tambah heran. Tidak perduli siapa yang dihadapinya, Sa Jeong menentangnya.
Sa Jeong "hah! Apa dalam perang perlu sopan santun pak? Kita bisa memberi salam dulu lalu menyerang mereka. Ini tidak masuk akal, kita tidak menyerang karena hujan, darah, dan tidak sopan. Apa menjadi pemberontak suatu tindakan terhormat? Kita jembali, menggulingkan Raja dan menguasai negara, bukankah itu tujuan pemberontak?"
Mendengar itu Jendral berdiri dari kursinya dan mencela Mo Hong Gap sebagai atasan langsung Sa Jeong. Tapi Sa Jeong tidak perduli. Dia menambahkan dari pada menjadi kaya dengan mencuri uang negara, lebih baik dia menjadi bandit saja. Lalu setelah meludah didepan Jendral, dia berbalik pergi sambil mengajak Mo Hong Gap dan Joong Geun. Tapi rupanya Hong Gap tidak berpihak padanya. Tanpa diduga, dia mengayunkan pedangnya dan ujung pedangnya berhenti tepat di leher Sa Jeong. Itu karena Joong Geun menahan pedang Hong Gap. Hong Gap berteriak apa Joong Geun sudah tidak mau bertemu anaknya lagi. Joong Geun dengan tenang menjawab
Joong Geun "jangan paksa aku mengeluarkan pedangku~kita semua bersaudara"
Mendengar Joong Geun, Hong Gap  terdiam dan menurunkan pedangnya pelan. Seorang Biksu diam diam melihat dari pintu tenda. Disaat Joong Geung lengah, tiba dan tanpa disangka Hong Gap mengibaskan pedangnya lagi dan langsung mengenai leher Joong Geun. Dia terjatuh sambil memegangi lehernya yang berdarah.
Sa Jeong mencoba membangunkan temannya. Tapi sayang, Joong Geun mati. Dan tiba tiba saja Hong Gap juga menyerang Sa Jeong. Dia menekannya sampai akhirnya Sa Jeong terlempar dari tenda ke luar. Mereka bertarung dibawah hujan. Hong Gap melompat sambil mengayunkan pedang kearahnya, beruntung Sa Jeong berhasil menepisnya dengan pedang. Pedang Sa Jeong mengenai bahu Hong Gap, dan dia membalasnya dengan menorehkan pedangnya didada Sa Jeong. Mereka terus bertarung diatas kubangan air hujan. Di saat Sa Jeong lengah, Hong Gap berhasil membuat pedang Sa Jeong terlempar dan tenggelam dibawah kubangan air. Dengan cepat Hong Gap menekan bahu Sa Jeong dengan pedangnya. Tapi Sa Jeong bisa bergerak dan malah menjatuhkan pesang Hong Gap. Mereka berdua bertarung dengan tangan kosong.

Biksu tadi memberitahu 2 orang temannya kalo ada sesuatu yang gawat.

Hong Gap mendapatkan pedangnya lagi. Tapi tidak dengan Sa Jeong. Mereka berhadapan. Seperti di beri aba aba, mereka berlari bersamaan. Hong Gap, mengayunkan pedangnya tapi Sa Jeong berhasil menghindari dan tanpa Hong Gap sadar, dia mengambil pedang yang terkubur di air dan langsung mengibaskan ke wajah Hong Gap. Hong Gap tersungkur. Sa Jeong ikut menangis, berlutut memandangi tubuh temannya itu.
Jendral Lee Seong Gye marah dan segera menyuruh pasukannya membunuh Sa Jeong. Meski begitu, dia tidak bergerak. Saat pasukan Jendral mulai mendekatinya, tiba tiba pasukan lain yang menunggang kuda datang menyelamatkannya. 


Sebuah kapal sedang diserbu para perompak. Awak kapal mati matian mempertahankannya. Tapi para perompak memang lebih kuat dari mereka. Cheol Bong, salah satu perompak bertarung sambil bolak balik muntah karena mabuk laut (hah?? Perompak mabuk? Byuh...). Yeo Wo, perompak wanita yang kuat terus terusan bertarung, dia juga meyelamatkan Cheol Bong dari incaran musuh karena sibuk muntah. Yeo Wol lalu melihat pemilik kapal digeladak. Tanpa berpikir panjang, dia memutus salah satu tali dan berayun kearah geladak. Begitu kakinya menyentuh geladak, dia langsung mengarahkan pedangnya ke leher si pemilik kapal.

Soma, Kapten perompak, datang dan memanahi awak kapal tawanannya. Yeo Wol, melihatnya dengan pandangan tidak setuju. Tapi dia hanya diam. Soma berdiri di pemilik kapal. Sambil mengarahkan mata mata busur ke wajahnya, Soma bertanya
Soma "dimana patung Budha nya?"

Awalnya, pemilik kapal menjawab kalo patung yang dicari Soma ada di kapal lain, tapi begitu Soma tidak percaya dan memanahi awak kapal lagi, mau tidak mau si pemilik berkata kalo patung Budha nya ada di kabin. Dan tetap saya Soma memanahnya setelah itu. Yeo Wol masih menampakkan raut wajah tidak suka, dan Soma tahu itu. Dia lalu menyerahkan busurnya pada Yeo Wol dan berkata
Soma "Budha maha pengasih Yeo Wol, jika kamu membiarkan mereka hidup, jelak akan jadi masalah, ingat itu!"

Yeo Wol hanya diam. Mereka akhirnya menemukan patung Budha emas yang disembunyikan di kabin. Tiba tiba Yeo Wol mendengar teriakan pelan dari dalam. Setelah mereka membongkar dengan paksa sebuah ruangan yang terkunci, Yeo Wol menemukan bebeapa gadis yang akan dijual dan dijadikan budak. Yeo Wol berkata kalo merekan akan dipulangkan, jadi tidak perlu takut. Saat dia akan pergi, salah satu dari mereka memanggilnya. Heuk Myo, gadis itu berkata kalo dia tidak mau pulang karena ayahnya sudah menjualnya. Yeo Wol tidak setuju karena resiko bagi perompak adalah mereka bisa mati kapan saja. Tapi Heuk Myo menjawab
Heuk Myo "budak juga sama, aku akan memasak, bersih bersih dan melakukan apa saja"

Yeo Wol akhirnya mengijinkannya.

Diluar para perompak sekalian menjarah barang barang kapal itu. Mereka berjalan diatas 2 kayu yang dihubungkan diantara 2 kapal. Saat dua orang bersenggolan, salah satu dari mereka menjatuhkan satu patung budha yang dibawanya. Semua bingung, apa yang harus dilakukan, tapi Yeo Wol langsung terjun ke air dan berusaha menggapai patung itu. Saat patung sudah dipegang Yeo Wol, dari jauh dia melihat seekor ikan paus besar mendekat. Bukannya takut dan berusaha menghindar, dia malah mendekati dan membelai luka diatas kepala paus yang berbentuk silang. Heemm..jadi mirip Kenshin Himura.
Tak lama, paus itu menjauh dan Yeo Wol kembali ke permukaan air, sambil mengacungkan patung budha dan disambut teriakan senang anak buahnya.

Suatu malam, 3 tahun kemudian

Kapten Soma sedang menjamu tamunya, Oh Man Ho (yeeayy..det. Ki) yang terbelalak melihat deretan patung emas Budha.  Di luar, Yong Gap sibuk berdongeng tentang keberanian Yeo Wol didepan anak buahnya. Dia berkata mereka pernah menghadapi perompak Jepang yang masuk wilayahnya dan Yeo Wol mengalahkan seseorang yang lebih besar bernama Makulaki. Setelah itu dia juga mengalahkan 500 orang sekaligus. Yeo Wol mengkoreksi kalo dia melawan 5.000 orang. Saat Yong Gap meragukan jumlah itu, Yeo Wol hanya berkata "pokoknya lebih dari 500 orang..." hahaha ya jauh mbk Yeo Wol 500 sama 5.000. Yong Gap melanjutkan
Yong Gap "intinya kami melawan 5.000 orang selama 2 minggu hingga laut menjadi merah"
Cheol Bong, yang habis muntah muntah (seperti biasa) menyela Yong Gap.

Cheol Bong "sialan! Lantas apa? Kita berjuanb mati matian tapi hanya Kapten yang makan daging. Yang kita dapatkan hanya ikan amis membuat mencret"
Cham Bok, si bajak laut yang lumayan agak kece dibandingkan yang lainnya, juga berkomentar "kudengar Kapten Soma membeli 12 rumah, kapan kami dibayar?". Mendengar itu Yeo Wol, yang sebenarnya menyetujui perkataan anak buahnya, menyuruh mereka tidak melanjutkan omongan itu, karena bagaimana pun mereka adalah saudara. Tapi, Heuk Myo, gadis yang hampir dijadikan budak dulu malah berkata terang terangan.
Heuk Myo "kenapa kau tidak memberontak saja? Kau tahu kami semua menginginkan hal itu.

Cheol Bong, mau meneruskan kata kata Heuk Myo, tapi dia keburu berlari sambil menahan muntahnya hahaha. Jadi ternyata memang Soma sudah tidak disukai sebagai seorang Kapten. Cheol Bong berlari masuk ke kabin. Tanpa sengaja dia mendengar percakapan Soma dan Oh Man Ho. Oh Man Ho ini ternyata seorang tentara yang bertugas membasmi perombak. Tapi ternyata dia malah menemui Soma dan meminta upeti. Sebagai ganti kepala Soma, dia menawarkan untuk membawa 7 anak buahnya untuk dijadikan tawanan. Cheol Bong yang tidak mau kalo sampai jadi tawanan, langsung memutuskan untuk melarikan diri. Dengan menggunakan rakit, dia mendayung sendiri ditengah malam. Sementara itu Soma memanggil Lucky Seven anak buahnya yang harus dikorbankan, dan para pasukan tentara segera mengikat mereka. Yeo Wol memprotes Soma. Tapi Soma tidak mengubrisnya. Oh Man Ho yang melihat kecantikan saya eh Yeo Wol ding, jadi pengin membawa nya juga.
Oh Man Ho "aku juga ingin membawa dia"
Tapi Kapten Soma melarangnya, dia justru menyuruh membawa Heuk Myo saja sebagai gantinya. Heuk Myo meronta begitu para prajurit membawa dan mengikatnya. Karena marah, Yeo Wol menebas punggung para prajurit dengan pedangnya. Oh Man Ho menarik pedang, yang diikuti para prajuritnya. Tapi ternyata perompak yang ada dipihal Yeo Wol lebih banyak. Mereka semua juga mengeluarkan pedan masing masing. Jadilah dua kubu saling berhadapan. Kapten Soma menyuruh anak buahnya menurunkan pedang, tapi tidak ada yang bergerak. Dia lalu mengambil pedangnya, dan berhadapan dengan Yeo Wol.
Soma "tidak tahu membalas budi, lebih rendah dari babi"
Yeo Wol menyerang Soma lebih dulu. Tapi Soma memang kuat, dia langsung membuat Yeo Wol terlempar kebelakang. Tanpa menunggu, dia menyerang Yeo Wol yang kali ini bisa mengambil pedangnya setelah terjatuh tadi. Mereka saling serang. Yeo Wol terpojok, tapi dia bisa bertahan. Dan saat Soma lengah, Yeo Wol berhasil melukai perut Soma setelah sebelumnya melucuti pedangnya. Soma kalah. Dan kemenangan Yeo Wol disambut meriah oleh anak buah nya. Saat fajar hampir turun, Soma dihukum dengan diterjunkan ke laut.

Sebuah kapal kerajaan berbendera Joseon berlayar kembali ke kerajaan setelah mendapat nama dan stempel baru dari kekaisaran China. Kaisar memberikan dengan syarat Joseon harus memberikan 500 budak dan 200 kasim untuk melayaninya. Kasim Han tersenyum didepan stempel kerajaan yang baru dan berkata kalo dengan ini, kerajaan Joseon bisa didirikan. Kepala Pengawal, yang dari tadi menemani Kasim Han, masih saja kuatir kalo dengan nama dan stempel baru ini maka akan ada perubahan yang tidak bisa diterima. Tapi Kasim Han menenangkannya. Tiba tiba Kepala pengawal mendengar ribut ribut. Dia menerima laporan kalo mungkin ada perompak yang mendekati kapal mereka. Kepala Pengawal memerintahkan untuk bersiap menyerang. Para pajurit sudah bersiap. Saat panah berapi dilontarkan, seekor ikan paus besar melompat keluar dari air.
Kepala pengawal malah menyuruh mereka memburu paus itu. Jadilah si paus menjadi sasaranj anak panah prajurit. Ikan paus yang marah menabrak kapal. Kasim Han menyelamatkan stempel kerajaan, sedangkan kepala pengawal terus menyuruh memburu ikan paus itu dengan meriam. Ikan paus yunior yang juga muncul, langsung jadi sasaran meriam. Tapi belum sampe tertembak, ikan paus senior, muncul dari air, terbang ke atas, kemudian tubuhnya yang besar menghantam kapal kerajaan. Kasim Han hanya melongo. Tiang bendera Joseon, terbelah jadi 2 dan bagian yang masih ada benderanya, tertancap di tubuh paus. Kasim Han, yang terapung di laut, berusaha mencari stempel kerajan, dan saat dia menemukannya di kejauhan, ikan paus itu datang dan memakan stempel kerajaannya hahahaha. Kasim Han langsung syok.

Cheol Bong berjalan didalam hutan sambil berteriak memanggil nama Harimau Gila. Dia tidak sadar kalo dia diikuti. Saat dia lengah dan menginjak perangkap, tubuhnya tergantung terbalik kebawah dan seseorang memukulnya hingga pingsan. Mereka membawanya pada Si Harimau Gila, yang ternyata adalah Sa Jeong. Sa Jeong menyuruh Cheol Bong memperkenalkan diri. Cheol Bong menyebutkan namanya sambil menambahkan kalo dia sudah melalui banyak pertempuran dan menguasai lautan selama 10 tahun menjadi perompak. Sa Jeong bertanya, kenapa pria berbakat sepertinya mundur dari laut. Cheol Bong menjawab ragu ragu. "Karena aku benci makan ikan, aku tak tahan bau amisnya, aku lebih suka daging" jawaban Cheol Bong langsung ditertawakan oleh yang lainnya. Sa Jeong menebak kalo dia sudah dikeluarkan. Cheol Bong mengelak. Tapi Chun Seop yang berdiri disebelah Sa Jeong meyuruhnya berkata jujur.
Chun Seop "ceritakan sejujurnya!"
Cheol Bong "baiklah akan kuceritakan sejujurnya. Aku memiliki kekayaan, ketenaran, dan tidak memiliki kekurangan sebagai perompak (halaahh...boong). Tapi menjalaninya tidak menyenangkan. Aku merasa hampa. Aku bahkan tidak bisa makan. Aku galau memikirkannya. Kemudian aku menyadarinya. Pria harus menjadi bandit. Pria harus berada dipegunungan"
Sa Jeong memotong bicaranya.
Sa Jeong "cukup...cukup..kau terlihat sedikit bodoh, tapi karena kau tidak punya tempat tujuan, aku akan menerimamu. Sebagai pangkat ke 30, lakukan tugasmu dengan baik"
Dan dengan pangkat ke 30, berarti Cheol Bong harus melakukan tugas memasak untuk mereka, termasuk juga dia harus dibulli juga sama senior nya hahaha.

Pejabat Jeong Do Jeon tergesa gesa memasuki kamar disebuah penginapan. Didalam ternyata sudah ada Kasim Han dan Kepala Pengawal. Kasim Han gugup melihat Pejabat Jeong. Apalagi Pejabat Jeong sudah memberikan kisi kisi hukuman apa yang akan diterima Kasim Han jika sampai Raja yang baru, tahu akan hal ini. Kasim Han memikirkan kembali apa yang akan dijadikan alasan hilangnya stempel, karena tidak masuk akal kalo sampai Raja tahu stempelnya dimakan ikan paus. Pejabat Jeong marah dan memukul meja. Dia membentak Kasim Han karena membiarkan ini terjadi. Tapi Kasim Han berkilah kalo dia, paling tidak sudah membawa kembali nama negara yang baru, dia tidak tahu apa yang terjadi kalo dia kehilangan kedua duanya. Bahkan Pejabat Jeong pun akan disalahkan karena pejabat Jeong yang merekomnedasikan Kasim Han menerima tugas ini. Menyadari itu Pejabat Han akhirnya memberikan solusi
Pejabat Jeong "dengar, waspadalah terhadap sentimen rakyat, jika rakyat tahu tentang kejadian aneh ini, maka mereka akan berpikir, takdir menentang kerajaan baru ini, jadi yang ingin kukatakan, ini demi kebaikan Joseon, tidak ada ikan paus, tapi kau telah diserang perompak"

Dibalik dinding, ada yang mendengar percakapan mereka.

Raja yang baru adalah Jendral Lee Seong Gye yang dulu memimpin pemberontakan Goryeo. Raja sangat terkejut saat tahu stempelnya hilang. Kasim Han melaporkan kalo mereka diserang oleh perompak Goryeo, dan mereka mencuri stempel kerajaan. Raja murka, dan bertanya bagaimana bisa dia kembali hidup hidup. Kasim hyan menjawab kalo mereka harus kembali untuk membawa nama negara yang baru. Kasim Han menyerahkan gulungan nama itu kepada Raja. Dari belakang, Pejabat Jeong memberikan usul untuk segera memberantas bandit dan perompak Goryeo. Mendengar itu Raja memberikan titahnya.
Raja "Proklamirkan negara kita sebagai Joseon, kirim pasukan kita untuk membasmi bandit dan perompak! Dan temukan stempel kerajaab, waktunya 2 minggu, mengerti!"

Sa Jeong membriefing anak buahnya, Sa Jeong mendapat informasi kalo ada sekelompok saudagar membawa emas dengan 20 pengawal. Mereka akan merampoknya. Si biksu tugasnya memberikan sinyal tanda aman, kalo sudah aman, si maknae akan memotong tali, dan jaring besar akan jatuh menimpa rombongan itu. Lalu Sa Jeong akan berayun seperi tarzan dari atas dan mengenai pengawal. Yang lain akan menyerbu setelahnya. Itu rencananya. Maknae kita, Cheol Bong mengeluh karena dia hanya mendapat tugas memotong tali. Padahal dia sudah berpengalaman berperang digaris depan. Sa Jeong malah memukul belakang kepalanya, dan mengatakan kalo memang sudah tugas maknae memotong tali.

Rombongan saudagar sudah mendekati tkp penyerbuan. Para bandit sudah bersiap diposisi masing masing. Si biksu hampir memberikan aba aba untuk memotong tali saat dibelakang rombongan, berbaris prajurit kerajaan yang jumlahnya ratusan. Biksu memberi tanda dengan menyilangkan tangan didepan dan menyuruh mereka kabur.
Tapi sayang, Cheol Bong salah mengartikan isyarat biksu dan menyangka dia harus memutus talinya. Begitu tali putus, jaring diatas jatuh didepan para prajurit. Chun Seop langsung memaki Cheol Bong dan menyuruh para bandit kabur. Apa semua kabur? oohh tentu tidak. Sa Jeong yang gagal paham, berayun dari atas tanpa tahu ada prajurit kerajaan didepannya. Tali ayunannya berhenti.
Kepala Prajurit memandangnya heran. Sa Jeong hanya meringis salah tingkah. Saat dia melorot turun dari tali, Cheong Bong, keluar dari persembunyiannya sambil berteriak "serang! keluarlah! bunuh mereka!". Saat Cheol Bong sadar kalo mereka salah sasaran dan hanya mereka berdua yang menghadapi ratusan prajurit itu, dia menoleh dengan wajah bloon ke Sa Jeong. Sa Jeong dengan cuek, tidak menghiraukan Cheol Bong dan berbalik arah, kemudian berlari sekencang kencangnya hahaha. Tahu bos nya lari, Cheol Bong ikut lari. Dan Kepala Prajurit berteriak "pemberontak Goryeo...kejar mereka!!"

Para bandit kocar kacir dikejar prajurit. Mereka melarikan diri. Cuman, Cheol Bong dengan begonya memanggil Sa Jeong. "ketua...tunggu aku..." teriaknya. Walhasil, Kepala Prajurit tahu kalo Sa Jeong ketuanya dan meyuruh anak buahnya mengejar. Jadilah adegan saling kejar dimulai. Sa Jeong dikejar Cheol Bong, dan Cheol Bong dikejar ratusan prajurit hahaha. Sa Jeong berteriak
Sa Jeong "pergilah jangan ikuti aku...jangan panggil aku ketua!"

Malam itu, Sa Jeong berhasil mengumpulkan anak buahnya yang tersisa. Dan itu tidak banyak. Semua menggerutu. Chun Seop takut kalo mereka akan bertemu Lee Seong Gye. Sedangkan San Man sebenarnya sudah mengingatkan Sa Jeong untuk tidak percaya informasi itu. Biksu juga memarahi Sa Jeong karena mengabaikan sinyalnya. Dan mereka semua langsung memandangi Cheol Bong yang berdiri terpisah dibelakang pohon. Chun Seop marah pada Sa Jeong karena setiap rencana mereka tidak pernah berhasil. Sa Jeong mengerti kegalauan Chun Seop, dia berkata "sudahlah, kita tahu pasukan kerajaan, mereka cuma berlagak mengejar kita dan akan pulang saat matahari tenggelam". Halah,,,Sa Jeong sok tahu. Pulang apa, orang pasukan kerajaan sudah mendekati posisi merekan dan siap mengepung. Para bandit kebingungan, Sa Jeong menyuruh mereka tenang. Tapi diam diam dia melarikan diri. Tahu ketuanya lari, mereka langsung ikut berlari dan dikejar lagi oleh para prajurit.

Kasim Han dan Kepala Pengawal Kerajaan mendatangi penjara bawah tanah. Mereka melihat kebawah, dan seorang tahanan bermata satu terkurung disana. Dia adalah Mo Hong Gap. Ternyata Pejabat Jeong mengeluarkan Hong Gap dari penjara untuk membantunya menemukan stempel kerajaan. Jadi Hong Gap akan memimpin pasukan angkatan laut untuk memimpin perburuan ikan paus.

Tanpa menunggu lama, besoknya Hong Gap dan Oh Man Ho berlayar menemui Yeo Wol di tengah laut. Hong Gap memerintahkan Yeo Wol menangkap seekor ikan paus dengan bendera kerajaan tertancap di punggungnya. Yeo Wol menolak karena baginya ikan paus adalah simbol kehidupan dari dewa laut. Mendengar penolakan Yeo Wol, Hong Gap mengancam
Hong Gap "kalian bileh menolaknya, tapi aku akan mematuhi perintah untuk membasmi perompak. Mungkin tidak mudah menangkap kalian, tapi aku akan menemuka keluarga kalian dan membantai mereka, aku akan membakar setiap desa yang membantu kalian, aku akan mengeksekusi mereka semua!"
Mendengar itu mau tidak mau Yeo Wol menyanggupi permintaan Hong Gap. Waktunya hanya 10 hari. Perintah Yeo Wol, pergi ke pelabuhan pusat.

Pelabuhan Pusat ramai malam itu. Yeo Wol ditemani Yong Gap, Heuk Myo, Cham Bok, dan 2 lainnya, menyusuri jalan dipasar. Tanpa mereka tahu, sebenarnya tim perompak berpapasan dengan tim bandit. Sa Jeong ditemani biksu juga berkeliling disana. Malah mereka menertawakan gambar wajah Sa Jeong yang tertempel di papan.
Jadi, sebenarnya Sa Jeong dan Yeo Wol sama sama sedang dicari prajurit kerajaan. 

Sa Jeong dan biksu pergi ke rumah gisaeng. Disana mereka menemui Park Mo. Dia adalah orang yang nenjual informasi tentang tim bandit pada pasukan kerajaan.

Park Mo dihukum Sa Jeong. Dia ditenggelamkan ke air dengan posisi kepala dibawah oleh biksu. Tapi dia tetap menyangkal memberi informasi itu. Bisku merenggangkan pegangannya lagi, kepala Park Mo masuk lagi ke air. Saat keluar, dia berkata kalo dia punya informasi yang bagus dan bisa membuat kaya. Tapi tatap dia minta imbalan. Biksu yang jengkel mau menenggelamkan kepalanya lagi.
"akan ku beritahu secara gratis!Ikan paus!  Ikan paus itu menelan kapal besar berisi penuh emas kaisar"
Sa Jeong hanya tertawa mendengar kata kata Park Mo, dia tidak percaya kalo ada kejadian aneh ikan makan kapal. Saat biksu hampir memasukan kepala Park Mo lagi, sebuah panah melesat memutuskan tali yang mengikat kaki Park Mo. Dia jatuh diair. Sa Jeong menoleh untuk melihat siapa yang menganggunya.

yak...ketua tim perompak dan tim bandit bertemu. Apakah ada love line diantara mereka? yang pasti part 2 banyak konyolnya deh...kepoin ya...gumawo..

2 komentar:

  1. Kapan dilanjutnya mba Put? Aaaaa seru semua klo drama Sageuk yg mainnya KNG maaaahh >.< XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha sabaarr yaa...abis producers tamat kayaknya baru bisa nglanjutin XD

      Hapus

Terimakasih reader, sudah menyempatkan membaca. Komentarnya selalu ditunggu ya. Senang kalo bisa membaca juga komen komen dari reader. Tolong jangan di kopas ya tulisan saya, sertakan saja link aktifnya. Gumawo...