Kamis, 16 Juli 2015

Sinopsis The Pirates part 2


Sa Jeong tertawa melihat Yeo Wol dan anak buahnya berusaha menghalangi niatnya menghukum Park Mo. Dia meremehkan Yeo Wol. "sangat disayangkan, wanita cantik berlidah kasar, dengan siapa aku bicara?". Yeo Wol yang tidak menjawab, berjalan melewati Sa Jeong. Tapi dia berhenti karena tangan Sa Jeong dibahunya. Yeo Wol segera berbalik dan dengan cepat menyerang Sa Jeong. Sa Jeong menangkis tangan Yeo Wol, dan pertarungan tangan mereka berlanjut sampai akhirnya jari jari Yeo Wol mengunci dagu Sa Jeong. 
"Aku tidak tahu soal harimau, tapi aku yakin kau memang gila" jawab Yeo Wol lalu berjalan melewati Sa Jeong. Yong Gap, dengan raut wajah serius, bertanya apa Sa Jeong itu bandit. Sa Jeong mengiyakan, dan Yong Gap menepuk dada Sa Jeong sambil berkata "pasti berat makan rumput..." hihi. 

Yeo Wol bernegosiasi dengan Park Mo tentang pembelian senjata dari Eropa dan Arab. Dia akan menukar dengan sepeti patung emas budha. Park Mo sudah bisa menduga kalo itu ada hubungannya dengan penangkapan paus yang sudah menelan stempel kerajan dari Kaisar Ming. Diluar, Sa Jeong dan biksu mencuri dengar pembicaraan mereka. 
Dihutan, Cheol Bong bercerita tentang penyerangan dikapal saat dia masih menjadi perompak. Para anak buah Sa Jeong mendengarkan ceritanya sambil tiduran ditanah.
"mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu, kami menghadapi 120 pasukan kapal dilautan! apa kami melarikan diri? Tidak!, kami para perompak tidak pernah melarikan diri! kami melawan 5 ribu orang selama 2 minggu sampai laut menjadi merah! itu pertempuran ke 17 aku sebagai perompak"
Dari belakang, Sa Jeong dan Biksu kembali. Dia mengumpukan anak buahnya. Belum juga dia bercerita, Chun Seop berkata "baik, aku mengerti ketua, aku sudah menduga hari ini akan datang, kau ingin kami menempuh jalan masing masing kan? kita bersama sudah terlalu lama, jaga dirimu kapten!" dan dia berjalan pergi diikuti yang lainnya. Perintah Sa Jeong untuk tetap tinggal tidak digubris. Mereka bahkan bertanya dimana tempat untuk mendaftar menjadi Perompak hahaha. Sa Jeong kemudian berdiri dan berkata "ada sebuah kapal berisi penuh emas". Chun Seop, berhenti kemudian berbalik diikuti yang lain.
"Kaisar Ming mengirim kapal berisi penuh dengan emas, kapalnya pasti besar kan? Tapi kapal itu....aahh...bagaimana aku menjelaskannya.....?"
Chun Seop tidak sabaran mendengar kelanjutan 'tapi' nya Sa Jeong. Melihat Sa Jeong ragu ragu, biksu meneruskan "kapalnya ditelan ikan". Mendengar itu, Chun Seop dengan cepat menedang dada biksu sampai dia terpelanting kebelakang. Chun Seop lalu memukuli kepala biksu dengan geram. "Sial! kau sudah terlalu lama menjadi biksu, kau tidak tahu kapan harus tutup mulut!, beraninya kau memotong pembicaraan kapten!, kapalnya ditelan ikan?, seluruh kapal? omong kosong!". Sa Jeong salah tingkah melihat biksu dipukuli. Dia bahkan tidak berani memandang Chun Seop hahaha. Scene ini lucu banget. Dan saat Chun Seop meminta Sa Jeong bercerita soal kapalnya. Sa Jeong, mundur beberapa langkah darinya, dan menjawab dengan ragu ragu kalo kapalnya ditelan ikan. Sa Jeong takut digetok kepalanya juga ternyata.

Mereka akhirnya percaya pada Sa Jeong, dan menurut Cheol Bong, kalo ikannya bisa menelan seluruh kapal, bisa jadi itu adalah ikan paus. Chun Seop bertanya apa mereka bisa menangkapnya dengan jala. Cheol Bong menggeleng dan berkata kalo ikannya sangat besar. Dia menggambar seberapa besar mata ikan paus.
"lihatlah, mata ikan paus sebesar ini....."
Mereka tidak percaya. Juga waktu Cheol Bong menjelaskan kalo ikan paus itu bernafas lewat punggung dan juga kalo ikan paus itu menyusui. Akibatnya biksu jadi emosi kemudian memukulnya. Dia ditahan yang lain karena hampir menyerang Cheol Bong lagi hihihi. Mereka tertunduk lesu mendengarnya. 
"dasar keras kepala, bagimana aku menjelaskannya? kalian orang daratan tidak mengerti, tapi dilaut itu dalam dan luas dan berisi segala macam mahluk. Ada yang memiliki sinar dikepala, jika ratusan ekor bersinar dari kepala mereka, laut tiba tiba menjadi terang, juga ada ikan terbang, jika ratusan ikan terbang, melompat dari air, mengepakkan sayapnya, ratusa ekor terbang didepanmu, pemandangan luar biasa"
Cheol Bong berkata kalo mungkin mereka akan butuh puluhan meriam untuk menangkapnya.

Paginya, rombongan Yeo Wol pergi ke tempat Park Mo untuk membeli meriam. Park Mo menjelaskan berbagai macam senjata yang ada disana.Yeo Wol tertarik pada botol granat. Saat Park Mo mencoba meledakkan granat itu, Yeo Wol langsung memutuskan untuk membeli semuanya.

Sa Jeong menghalangi jalan Yong Gap yang sedang memindahkan peti peti berisi botol granat kedalam gerobak. Yong Gap menyuruh Sa Jeong menyingkir tapi saat dia menengok kebelakang, 2 anak buahnya sudah disandera oleh Chun Seop. Sa Jeong membalas perkataan Yong Gap "apa kau perompak? pasti susah menangkap ikan! lalu membenturkan kepalanya ke kepala Yong Gap. Yong Gap jatuh. Yeo Wol, yang baru keluar dari tempat Park Mo, kaget melihat Yong Gap jatuh dan gerobak mereka hilang.
Yeo Wol mengejar gerobak yang dibawa lari Sa Jeong dan Chun Seop. Dia melompat dari atap ke atap dan meluncur kebawah melewati saluran air yang ada diatas sambil membidik Sa Jeong dengan panah. Sebaliknya, Sa Jeong ganti menembakkan meriam ke arah Yeo Wol. Tapi terkena roda besar menggerak saluran air dan akhirnya meledak.
Yeo Wol terus meluncur kebawah. Tapi roda besar itu lepas dari penyangganya dan menggelinding mengikuti gerobak Sa Jeong. Dia terkejut saat tahu ada roda besar yang mengejarnya, dan meminta Chun Seop untuk berlari lebih kencang. Chun Seop, yang juga melihat kebelakang, lebih kaget dan menarik gerobaknya lebih cepat.
Yeo Wol melompat ke pohon karena saluran air nya runtuh tertabrak roda besar tadi. Dan dia mendarat di atap rumah sambil kesakitan. Dari atap, dia bisa melihat gerobaknya. Dia lalu melompat tepat didalam gerobak dan menyerang Sa Jeong yang sudah berada diatas gerobak. Otomatis gerobaknya jomplang karena bebannya tidak seimbang
Yeo Wol tidak perduli, dia tetap menyerang Sa Jeong. Sa Jeong pun membalas serangannya. Mereka tidak sadar kalo akan berpapasan dengan roda besar yang masih menggelinding tadi. Tapi mereka berhasil melewati bagian bawah roda yang kayunya sudah patah. Well, mereka selamat, tapi kemudian roda belakang menabrak batu dan kayu penariknya patah. Chun Seop ikut jatuh sambil memegangi kayu tadi.
Chun Seop berteriak pada Sa Jeong yang masih berdiri diatas kereta yang masih melaju kencang. Dan saat dia dan Yeo Wol melihat pagar pembatas, mereka berteriak karena kereta mereka menabrak pagar tadi dan meluncur kebawah.
Kereta mereka meluncur kebawah melewati burung merpati yang langsung jatuh pingsan saking kagetnya dan mendarat dengan keras menabrak kandang ayam. Yeo Wol langsung mendorong Sa Jeong sambil menekankan pedang didadanya. Tapi Sa Jeong memberi isyarat agar Yeo Wol menoleh kebelakang. Dan dia kaget saat tahu tentara kerajaan yang jumlahnya ratusan, sudah bersiap membidik mereka dengan panah. Saat beberapa panah ditembakkan, reflek Sa Jeong melindungi Yeo Wol, dan akibatnya dia terkena banyak panah dipunggungnya.
Yeo Wol bertanya lirih, "apa kau sudah mati?". Dan Sa Jeong tiba tiba saja melepaskan Yeo Wol sambil bergumam kesakitan. Dia kemudian meminta Yeo Wol untuk menyerah tapi Yeo Wol tidak mau. Saat itulah bantuan datang. Roda besar tadi sampai ditempat mereka dan segera menubruk gerobak berisi botol granat.
Untung Sa Jeong dan Yeo Wol sudah berlari menghindar. Tapi tetap saja mereka terlempar karena ledakannya tadi. Yeo Wol bangun dan terbatuk batuk manahan asap hasil ledakan. Dia berjalan menjauh dan menemukan gambar Sa Jeong yang sedang dicari oleh kerajaan.

Lalu dimanakah Sa Jeong? apakah dia mati karena terkena panah? oohh tentu tidak karena dia memakai perisai dari bambu di punggungnya.
"dasar bodoh, jika terkena di kepalamu kau bisa mati"
Chun Seop melepaskan anak panah yang tertancap di perisai Sa Jeong. Setelah semua anak panah terlepas, Sa Jeong memberi perintah anak buahnya untuk segera pergi kelaut dengan membawa seluruh bahan peledak yang sudah berhasil mereka curi dari Yeo Wol.

Dilaut, Yeo Wol juga memberi perintah awak kapalnya untuk segera bersiap siap menangkap ikan paus.

Akhirnya Sa Jeong dan anak buahnya sampai juga di tepi pantai. Sa Jeong berpidato "Walaupun kita hidup sebagai bandit, kita bukan perampok pengecut seperti Lee Seong Gye, dia menguasai negara dengan paksa, tapi dia akan membayar kita untuk mendapatkan stempel Kerajaan!Di laut itu ada ikan paus yang akan membuat kita kaya, mari kita pergi kelaut, ayoo!!!" teriak Sa Jeong pada anak buahnya yang sedang duduk diatas kapal yang akan membawa mereka ke laut.

Kapal yang sangat kecil. Yang bernama perahu.
Hahaha...gemes saya. Aje gile mau nangkap paus pake yang beginian. Cheol Bong yang berteriak tidak setuju harus menerima pukulan lagi hihi.

Paus yang sedang dicari oleh kubu perompak dan perampok itu sedang berenang dilautan sambil menyusui anaknya. Dipunggungnya tertancap bendera Kerajaan Joseon.
Di balai Istana sedang diadakan rapat tentang pemindahan ibu kota. Menurut pejabat Do Jeon, Istana Joseon harus dibangun di tanah baru, bukan dibekas kerajaan Goryeo. Raja setuju, tapi dia hanya akan memindahkan ibukota kalo stempel kerajaannya sudah ditemukan. Dan Raja hanya memberikan waktu 5 hari lagi untuk mencarinya. Pejabat Do Jeon hanya bisa berharap Hong Gap bisa menyelesaikan misinya.

Mo Hong Gap membaca perkamennya dengan serius dan mengancam membunuh Oh Man Ho karena banyak bicara dan mengganggunya.

Seseorang berambut perak yang dikucir duduk ditepi pantai sambil melihat sebuah kapal dibangun. Dia juga mendengarkan laporan tentang kapalnya. "Semuanya sudah siap, kami sudah lebih dari 300 meriam". Orang itu adalah Kapten Soma.
"akhirnya...aku bisa merasakan laut lagi! kita berlayar besok, jika kita menunggu lebih lama, Yeo Wol bisa menikmati hidup sehari lagi"
Ternyata Kapten Soma masih hidup. Dan dia akan memburu Yeo Wol.

Perahu kecil yang membawa tim perompak terapung apung ditengah laut. Mereka semua sudah kelelahan dan kehabisan makanan dan air minum. Saking hausnya, Sa Jeong tetap meminum air laut meskipun Cheol Bong dengan pelan dan hampir kehabisan tenaga, melarangnya. Sa Jeong, yang tidak puas, memasukkan kepalanya ke air laut sambil terus meminum airnya. Tiba tiba saja seekor ikan hiu mendekati dan hampir memakannya. Untung Sa Jeong cepat cepat menarik kepalanya keluar dari laut. Ikan hiu itu mengikuti Sa Jeong dan muncul dipermukaan. Segera Sa Jeong berteriak 'ikan paus' dan membuat anak buahnya bangun.
Mendengar teman temannya heboh, Cheol Bong ganti beteriak kalo itu adalah hiu putih. Tapi tidak ada yang mendengarnya. Lalu hiu itu meluncur cepat dibawah perahu, dan membuat perahunya miring, sehingga ada yang jatuh ke laut. Chun Seop segera melemparkan tali dan berusaha menariknya sebelum dia digigit hiu. Sedangkan Sa Jeong memanahnya. Bidikan Sa Jeong meleset, tapi dia kembali mengambil tombak dan dengan cepat menancapkan ke hiu. Nah ternyata, tombak tadi diikat dengan tali tambang yang langsung menyeret perahu mereka dengan sangat cepat sampai layar perahu patah tertiup angin.
Dari jauh, Kapten Soma melihat ada perahu yang meluncur cepat. dan hampir menabrak kapalnya. Sa Jeong mengambil meriam dan membidiknya ke arah hiu. Sayang bidikan Sa Jeong meleset dan mengenai tiang kapal Kapten Soma. Kapten Soma menyangka meriam tadi sengaja ditembakkan ke arah mereka. Dia lalu memerintahkan untuk menyiapkan meriam juga. Tapi karena perahu meluncur dengan cepat, tembakan meriam Kapten Soma juga meleset.
"katamu ini kapal tercepat....."
Lha Kapten Soma malah menyalahkan anak buahnya haha.

Perahunya tiba tiba saja berhenti. Chun Seop mengambil jala. Tapi ternyata hiu itu sudah mati. Dipantai, mereka berteriak kegirangan, menyangka kalo yang mereka bunuh adalah ikan paus. Tapi Cheol Bong dengan berteriak sampai suaranya serak, menjelaskan kalo itu bukan ikan paus. Akhirnya Sa Jeong menyuruh mereka untuk menyiapkan perahu dan berlayar lagi. Biksu berusaha untuk membuka penutup botol granat. Dia mengira kalo itu adalah botol arak. Karena tutupnya sulit dibuka, dia jengkel dan akhirnya melemparkan botol granat tadi dan terkena perahu.
Mereka jadi bingung bagaimana akan menangkap ikan paus.

Di kapal perompak, Yeo Wol mencoba menembakkan panah lewat meriam dan tepat mengenai sasaran. Para perompak semakin semangat untuk memburu ikan paus.

Para perompak bermaksud mencuri kapal kerajaan yang ada dipelabuhan. Tapi Sa Jeong bingung siapa yang akan mengemudikan kapalnya. Lho kan ada Cheol Bong?. Iya sih, masalahnya dia ngambek dan mau pergi karena kebanyakan di bulli dan dipukuli oleh seniornya. Sa Jeong, akhirnya menaikkan pangkatnya menjadi pangkat ke 2, yang artinya dia bisa memerintah yang lain. Semuanya protes, tapi Sa Jeong tidak perduli. Dan Cheol Bong memberikan instruksinya.
"Berenang dilaut berbeda dengan didanau, jika melawan arus kau akan mati, ikuti arus seperti ular diatas batu, dilaut kalian harus mendengarkanku"
Cheol Bong lalu memberi perintah "kau kepala ular, bakar semua kapal agar mereka tidak bisa mengikuti, jangan berselisih, lakukan dengan benar, aku akan bersiap dengan yang lain untuk berlayar, aku lupa satu hal penting, selalu ada minyak disamping obor, setiap kapal selalu memilikinya, tuangkan minyak ke kapal lain, lalu kembali ke kapal kita dan menembak panah api ke mereka, mengerti?".

Nah, apa para perompak bisa menjalankan rencana itu dan berhasil mencuri kapal kerajaan? Postingan part 2 nya sangat amat jauh dari part 1 ya hehehe. Gegara project sinopsis 3 drama jadi terbengkalai. Tapi akhirnya saya sudah kembali kejalan yang benar hahaha. ok tungguin part 3 nya. Saya buat 3 part karena filmnya padat banget dan hampir semua scene penting untuk ditulis. Part 2 ini saya  tulis di kereta api Sarangan yang membawa saya ke kota kelahiran saya Madiun. Hehehe jadi pamer kalo saya punya kampung. Part 3 selesei lebaran  aja ya.

Selamat menunaikan puasa hari terakhir ya, pesen saya nanti malam jgn ikut takbir keliling, takbiran aja di musholla ato masjid dekat rumah.

Sekalian saja saya ucapin Minal Aidin Wal Faidzin buat readers, mungkin kalo ada tulisan saya yang kurang berkenan, saya minta maaf ya. Gumawo...

Kamis, 09 Juli 2015

Sinopsis Warm and Cozy episode 16 (End)

Jeong Joo dan Geun Woo saling mengolok olok. Jeong Joo mengejek Geun Woo yang merindukannya sampai menangis. Sebaliknya, Geun Woo mengejek Jeong Joo yang berkhayal tentang "pangeran impian berkuda hitam" yang jadi cinta pertamanya. Jeong Joo berkelit kalo image Geun Woo adalah seorang bajingan. Tapi Geun Woo berkata kalo dia sudah mengarah ke kehidupan terhormat. 

Maksudnya adalah Geun Woo ternyata selama ini pergi ke Amerika dan bekerja dengan pamannya. Dan sepertinya, dia akan mewarisi perusahaan pamannya. Hee Ra dan Ji Won membicarakan tentang Geun Woo. Hee Ra bertanya apa karena Geun Woo akan menjadi pewaris, makannya Ji Won terus berada didekat Geun Woo.
"aku punya harapan besar kalo dia akan jadi seseorang yang kuinginkan, tapi dia tak pernah memberiku ruang"
Hee Ra tersenyum dan bertanya apa benar Ji Won akan menikah. Ji Won mengiyakan dan memberitahu kalo dia akan menikah dengan pewaris grup Youngseok.

Jeong Joo berkenalan dengan calon suami Ji Won. Ji Won sih bolak balik menyombongkan kalo Joon adalah pewaris grup Youngseok dan dia punya villa yang besar. Geun Woo bertanya apa tidak apa apa Ji Won menikah di sebuah ladang. Joon, yang kuatir, juga bertanya padanya. 
"tidak...aku suka, aku akan merubah segalanya dalam diriku demi Joon Hee"
Geun Woo dan Jeong Joo melongo melihatnya. Saat Ji Won dan Jeong Joo sama sama di toilet, Ji Won bercerita kalo Geun Woo adalah calon pewaris perusahan besar pamannya. Jeong Joo yang tidak mengira kalo Geun Woo sukses, hanya menghela nafas dan sepertinya cemas.

Hae Sil akhirnya tahu tentang presdir Jin dan putranya. Dia tidak sengaja mendengar Jong Bae bicara pada presdir Jin ditelepon. Dia memaksa Jong Bae memberitahukan siapa anak presdir Jin dan terkejut saat tahu dia adalah Geun Woo. Dia tambah kaget saat diberitahu kemungkinan bukan presdir Jin yang menabrak suami Hae Sil, tapi ibu Geun Woo. 

Di kamar, Hae Sil menatap foto ibu Geun Woo. Dia lalu menemukan hadiah yang disembunyikan suaminya dibelakang foto ibunya.
Saat menatap 2 benda itu, Jung Geun masuk. Dia melihat istrinya memegang kado darinya dan menyuruh Hae Sil menganggap kalo itu adalah hadiah dari ibunya. Hae Sil berkata "kau tidak melakukan kesalahan, tapi aku sangat membencimu". Jung Geun heran dan salah sangka, dikiranya Hae Sil marah karena dia tidak memberitahu tentang kedatangan Geun Woo. Hae Sil hanya pasrah karena tahu bagi Geun Woo sangatlah berat kalo harus bertemu dengannya.

Jung Geun menyuruh Geun Woo menyapa Hae Sil. Geun Woo sebenarnya tidak mau karena dia tidak ingin Hae Sil tahu rahasianya. Jung Geun menyetujuinya.
"benar, jangan saling bertemu, aku akan pergi ke Jepang, jadi kau bisa tinggal disini kalo mau, ku dengar dari sekretaris Jang kalo Lee Jeong Joo sangat spesial bagimu, jangan meninggalkannya, aku yang akan pergi kali ini"
Geun Woo menunggu Hae Sil di depan kamar dan menyapanya. Hae Sil hanya terdiam dan tidak berkata apa apa sampai Geun Woo pergi. Ditempat lain, Jong Bae berbicara dengan presdir Jin yang ingin bertemu dan berbicara pada Hae Sil.

Malam itu, Jeong Joo sengaja menata meja dikamarnya. Ada anggur, dan juga lilin. Jeong Joo sepertinya bahagia sekali. Dia terus terusan tersenyum sambil menyemprotkan parfume di sekelilingnya dan juga mengusapnya di tangan dan leher. Heemm...ngarep ni mbk?.
Jeong Joo sih sebenarnya juga berfikir apa ini terlalu blak blakan. Tapi tetap saja dia malah memakai masker wajah demi terlihat ketje didepan Geun Woo. Nah ternyata sampai jam 12 lebih pun Geun Woo belum juga sampai. Jeong Joo akhirnya menelponnya. Dan ternyata Geun Woo malah tidak tahu kalo Jeong Joo sedang menunggunya. Jeong Joo yang malu karena ketahuan H2C nya, langsung menutup ponselnya. Tapi Geun Woo lalu menelponnya lagi dan menggodanya. "Apa kau pikir aku sedang menunggumu?" kata Jeong Joo.
"kupikir kau mungkin menyalakan lilin dan sedang menungguku, kalo kau mungkin berdandan dan memakai parfum, aku penasaran apakah vampir penggoda mungkin terbangun"
Jeong Joo tetap tidak mau mengakui. Dia mengucapkan selamat malam dan langsung menutup ponselnya. Tapi Geun Woo memang cowok keren. Malam malam juga dia nyamperin Jeong Joo yang sudah pulas tidur. Dia hanya tersenyum melihat meja yang tertata rapi dan bergumam kalo dia sudah terlambat. Geun Woo duduk di pinggir tempat tidur Jeong Joo, melihatnya tidur dan berkata pelan "tidurlah yang nyenyak, aku tak punya pilihan lain selain pergi lagi, Lee Jeong Joo, lain kali jangan menahannya". Setelah itu dia pergi.

Besoknya, saat Geun Woo pergi ke Maendorong Ttottot, Poong San senang melihatnya datang. Geun Woo lalu menyuruh Poong San menyebarkan berita kalo dia dan Jeong Joo sedang pacaran. Dibilang begitu, Jeong Joo mah senyam senyum saja. Tapi saat Geun Woo menghampirinya, dia tetep kekeuh kalo semalam dia tidak menunggu dan tidak berharap melakukan apa apa dengan Geun Woo. "Aku tidak terbakar oleh hasrat semacam itu!" katanya.
"baiklah Lee Jeong Joo yang tahan diri, kau hebat!, seandainya kau tidak bisa menahan, teruskanlah dan beritahu aku, aku akan bekerjasama denganmu kapanpun"
Jeong Joo menahan malu dan pamit mau ke gudang sambil meringis bmenahan malu.

Hee Ra menunggu Hwang Wook di balai kota. Hee Ra sih modus mau mengembalikan jaketnya Hwang Wook. Tapi aslinya dia pengen ketemu dengannya. Hwang Wook yang clueless dengan maksud Hee Ra hanya mengucapkan terimaksih lalu beranjak pergi. Tapi Hee Ra menahannya dan mengajaknya makan. Hwang Wook tetap tidak mau. Karena jengkel, Hee Ra mendorongnya dan berteriak "Kau sudah memelukku dan melepas jaketmu untukku!". Mendengar itu, Hwang Wook, beberapa pegawai dan warga yang ada didekat situ langsung melogo. Hwang Wook yang bingung, segera mengajak Hee Ra keluar dari situ. Hwang Wook bertanya apa maksud Hee Ra.
"berdasarkan intel kualitas tinggi yang kudengar, Pak Walikota bisa memasukkanku ke sekolah penyelam wanita, masukkan aku"
Hee Ra mengancam Hwang Wook karena dia tahu sesuatu. Hwang Wook salah mengira kalo Hee Ra tahu soal pria tanah merah liat, tapi bukan. Hee Ra mengancam akan menyebarkan foto Hwang Wook yang menangis di gudang anggur pas pernikahan kakaknya. Hwang Wook tidak takut dengan ancaman Hee Ra. Dia lalu berdiri dan meninggalkan Hee Ra. Hee Ra berlari kecil mengikuti Hwang Wook, tapi dia terjatuh saat menuruni tangga. Hwang Wook jengkel melihat Hee Ra, tapi dia tetap mengulurkan tangannya membantu Hee Ra dan memboncengnya pulang.

Di Maendorong Ttottot, Geun Woo membantu mengupas kentang. Jeong Joo, yang melihatnya, teringat Ji Won pernah berkata kalo jalur Geun Woo berbeda dengan jalurnya. Jeong Joo jadi ragu, apa dia boleh membuat Geun Woo bekerja seperti itu. Tapi menurut Poong San, Geun Woo benar benar ingin menarik perhatian Jeong Joo. Dia juga bercerita tentang bisnis paman Geun Woo.
"beberapa bisnis distribusi, kudengar Geun Woo hyung satu satunya pewaris dalam keluarga Baek"
Jeong Joo merasa tidak enak karena mempekerjakan Geun Woo seperti itu. Dia jadi pusing pala barbie. Dia berkata pada Geun Woo dia akan memaafkan Geun Woo kalo seandainya dia bersikap dingin, karena demi dia, Geun Woo menyerah jadi pewaris keluarga Baek. Geun Woo bingung, "Kenapa juga aku harus menyerah karenamu?" tanyanya.
"aku merenungkan apa yang harus aku lakukan, tetap saja aku harus kembali sekarang. Aku tidak bisa cuma bilang 'aku keluar' lalu keluar, aku ini bukan orang brengsek, kau tak apa soal hubungan jarak jauh? Jeong Joo ku sangat sabar kan?"
Jeong Joo bergumam sendiri "aku sama sekali tidak punya kesabaran" sambil tertunduk lesu.

Bok Nyeo dan Yoo Ma bertanya tentang hubungannya dengan Geun Woo. Jeong Joo menjelaskan kalo Geun Woo akan pergi sebentar karena ada yang harus dikerjakan. Tapi ternyata dua ahjumma itu tidak suka mendengarnya. Mereka melarang Jeong Joo melepas Geun Woo untuk kedua kalinya.

Jeong Joo masih menyesali nasipnya yang akan ditinggal Geun Woo di rumah bobrok yang dulu dia beli saat pertama kali ke Jeju. Saat Geun Woo datang, dia menjelaskan kalo akan membangun sebuah cafe karena uang tabungannya sudah cukup. Tapi Geun Woo tidak setuju, dia malah mau membangun sebuah rumah. Saat Jeong Joo protes, dia berkata "kau memberikannya padaku sebagai jaminan karena uang setoranmu tidak cukup!, kau tidak bisa membetulkannya semaumu tanpa ijinku!". Jeong Joo tidak bisa mengelak. Lalu mereka berdua berdebat soal Jeong Joo yang masih menahan diri terhadap Geun Woo
"lihat dirimu, kuberikan kesempatan untuk menerkamku dan kau masih tetap membuatku aman, baik....akan kutunggu dan lihat seberapa lama kau bisa bersabar, kau tahu aku akan pergi dalam beberapa hari kan? jangan buang waktumu dengan menjadi pemalu"
Ya ampun...Geun Woo ini bener bener ngarep diapa apain ya.

Ji Won berkunjung ke Maendorong Ttottot dan minta Jeong Joo untuk mengatur acara pernikahannya dengan Joon Hee-nya. Jeong Joo sebel dengan Ji Won, jadi dia berkata kalo dia melakukannya untuk Joon Hee. Ji Won kemudian bertanya kenapa Jeong Joo membiarkan Geun Woo pergi begitu saja. Apalagi dia ikut memanas manasi Jeong Joo.
"kurasa kau tidak mengerti sama sekali, kau bahkan tidak bisa bayangkan berapa banyak wanita yang melirik Geun Woo setahun terakhir ini?"
Dan Ji Won langsung pergi. Jeong Joo meradang, tapi Poong San malah mendukung perkataan Ji Won. Jeong Joo tambah galo.

Malam itu, Jeong Joo sengaja berdandan untuk Geun Woo. Didepan kaca dia melatih pidato untuk merayu Geun Woo. Dan setelah itu, dia turun dengan pelan pelan. Dia melihat Geun Woo sedang main tablet. Jeong Joo menarik nafas panjang dan mengajak Geun Woo nonton film dan makan bubur kacang merah. Tapi Geun Woo tidak mau. Dia bahkan juga tidak mau diajak jalan jalan dipantai. Jeong Joo putus asa dan berkata kalo Geun Woo ternyata sudah nyaman dengan hubungan mereka yang sekarang ini.
"aku merasa tidak nyaman selama ini, aku gelisah menunggumu disini, penasaran kapan kau akan turun dan merasa sangat tidak nyaman"
Geun Woo menarik tangan Jeong Joo kemudian menciumnya.
Mereka berdua jelas tidak berani keluar malam itu......

Hae Sil dan Jung Geun bernostalgia di tebing tempat mereka sering bicara dulu.

Hae Sil akhirnya memutuskan untuk menemui presdir Jin. Tanpa mereka tahu Geun Woo melihat mereka dari jauh. Dari perkataan kiasan presdir Jin, sepertinya memang dia yang menabrak suami Hae Sil. Presdir Jin berpamitan dan berharap mereka tidak saling bertemu lagi. Saat presdir mau pulang, Jong Bae memberitahu kalo Geun Woo sudah mendengar pengakuan ayahnya. Tapi Presdir Jin tidak menyesal.

Hae Sil termenung di kamar. Tanpa sengaja dia melihat sebuah kado dibungkus watna merah ada dibawah meja. dia mengambil dan membukanya. Didalamnya ada sebuah surat dan butiran pasir dalam botol. Surat itu dari Jung Geun.
"akhirnya kau temukan batu permata yang sudah kusiapkan dengan kerja kerasku, nama batu permata ini adalah Pulau Jeju, aku pergi ke berbagai tempat di Jeju yang kau cintai dan mengumpulkannya sedikit demi sedikit, Tanah dari gunung Halla, pasir hitam dari Muara Soesokkak, pasir dari Pantai Sorang dimana kau biasanya pergi menyelam setiap hari juga disini, aku punya banyak uang, karena permata yang dibeli dengan uang tampaknya tidak seberharga itu, jadi aku pergo ke setiap sudut dan celah Pulau Jeju. Bagaimana menurutmu? Kau menyukainya?
Hae Sil menangis dan menyadari kalo Jung Geun sangat mencintainya.

Jeong Joo memeluk Geun Woo yang masih tidak percaya mendengar pengakuan ayahnya.

Jung geun memberitahu geun Woo kalo Hae Sil setuju meninggalkan Jeju dan menetap di Okinawa.

Presdir Jin mengunjungi Maendorong Ttottot. Jeong Joo mempersilahkan masuk dan membawakan masakan Geun Woo padanya. Setelah presdir Jin mengincipi sedikit masakannya, Jeong Joo berkata
"Maendorong Ttottot kan? itu adalah uangkapan Pulau Jeju yang artinya 'Hangat dan Lezat'. Itu juga nama restoran kami, itu adalah ungkapan dari ayahnya chef kami pada ibunya, ungkapan yang cukup indah kan? Chaf kami yang membuat semua hidangan ini, Chef kami punya hati yang hangat dan dia adalah orang yang baik, jadi hidangan inin hangat dan enak juga......silahkan dinikmati"
Selesai makan Presdir Jin mengucapkan terimakasih saat diantar Jeong Joo ke depan. Geun Woo, yang tahu ayahnya datang, memilih untuk tidak menyapanya. Tapi dia diam diam menangis saat mobil ayahnya menjauh.

Arsitek yang disewa Jeong Joo menerima perintah Geun Woo untuk membangun sebuah rumah. Jeong Joo tersipu sipu saat ahjussi itu menggoda kalo dia akhirnya akan menikah dengan Tn. Maendorong.

Malamnya, Geun Woo berpamitan kalo dia akan segera kembali ke New York. Jeong Joo cemas dan bertanya sesering apa Geun Woo bisa datang. "Sebulan sekali?~dua bulan sekali?~bahkan bukan 3 bulan sekali?".
"aku akan kembali dalam seminggu, Hyung dan istrinya pergi ke Jepang bulan depan, dengan begitu semuanya sedikit berubah, aku bisa tinggal di Jeju"
Ciee yang gg jadi LDR.....

Mereka akhirnya bernostalgia tentang awal mereka bertemu sampai sekarang.

Geun Woo memasakkan Ji Won dan Joon Hee sup landak laut sebagai hidangan pernikahan mereka. Ji Won masih tetap berpura pura kalo dia menyukainya karena Joon Hee suka. Tapi saat Joon Hee mengajaknya ke Puncak Oksunbong, menanam gandum dihalaman belakang, memelihara ayam dan kambing, dan memasak sendiri untuk makan sehari hari, Ji Won langsung berteriak marah.
"lupakan, aku tidak mau, tidak sudi, masak saja 3 kali sehari sendiri, nikmati saja pernikahanmu sendiri diladang bunga matahari atau di ladang gandum"
Joon Hee dengan gugup langsung mengejar Ji Won.

Hae Sildan Jung Geun bersiap siap berangkat meninggalkan Jeju. Sebelumnya mereka makan dulu di Maendorong Ttottot.

Hee Ra mengejar Hwang Wook dan memaksa minta dibonceng ke Maendorong Ttottot.

Maendorong Ttottot rame sekali. Ada Hae Sil, Jung Geun, dan sekretaris Jang, ada Bo Mi Ra dan suaminya, Jong Bae, Yoo Ja, dan Bok Nyeo, terus ada beberapa pegawai balai kota.
Bo Mi Ra ternyata sedang menulis kisah baru tentang Hwang Wook yang berkencan dengan Hee Ra. Tapi suami Bo Mi Ra merasa kalo Hee Ra hanya Hee Ra yang selalu mengejar ngejar Hwang Wook.

Poong San akhirnya berhasil mengajak Yoo Ra, keponakan Hwang Wook pergi kencan.

Jong Bae, Yoo Ja, dan Bok Nyeo tidak sabar merasakan sup mie pernikahan Geun Woo dan Jeong Joo.

Jeong Joo pamer pada Hae Sil kalo dia sudah bisa menangkap landak laut sendiri.

Dan datanglah pasangan baru kita. Hee Ra dengan pedenya menyapa semua yang ada disitu. Sedang Hwang Wook malah mau melarikan diri hehehe. Hee Ra lalu menyeret Hwang Wook ke meja Jung Geun dan disoraki oleh para pegawainya.

Dari jauh, Jeong Joo melihat semuanya sambil tersenyum.

Selesai mengurusi para tamunya, Geun Woo dan Jeong Joo duduk di depan restoran mereka.
"Kalo begitu...kita mau bagaimana?"
"apanya?"
"upacara pernikahan, kau mau yang bagaimana?"
"entahlah... kurasa kau yang akan jadi pengantin prianya?"
"benar, kurasa kau tidak punya pilihan soal itu, aku sudah memberikan segalanya padanya dulu, aku adalah milikmu sampai mati, kau tidak bisa menariknya"
Mereka membicarakan tentang bagaimana upacara pernikahan mereka nanti, Geun Woo mau mencoba menikah dibawah laut, tapi Jeong Joo menyelanya karena seharusnya itu kejutan. Dan terakhir Geun Woo tetap saja merayu Jeong Joo.
Nikmatilah malam yang hangat dan nyaman!

T     A     M     A     T

aaaahhh selesei juga drama itu. Saya sih gg habis pikir ya, kenapa Hae Sil masih belum bisa memaafkan Geun Woo, kan bukan salahnya juga, suaminya meninggal. Lagi pula Geun Woo juga gg deket sama ayahnya. Hahaha lucu ngliat Hwang Wook yang biasanya nguber sekarang ganti diuber. Hee Ra sih kayaknya bakal lengket sama Hwang Wook sampai cintanya diterima hehehe. Saya kurang suka ektingnya Kang Sora disini. Justru suka sama dia di Misaeng. yang pasti sebenernya saya bisa lumayan agak menikmati eps terakhir ini daripada sebelumnya.

Oke...next project drama kayaknya msh blm ada ya. Saya mau nerusin The Pirates sama Twenty dulu...Gumawo sama mbk Ratna yang udah nemenin saya...muuaahh...

Senin, 06 Juli 2015

Sinopsis Warm and Cozy episode 15


Jeong Joo dengan putus asa mencari Geun Woo dibandara. Dia bahkan mengirim beberapa pesan text untuk, tapi tidak dibalas.
"Geun Woo, aku merasa akan gila karena sekarang kau pergi"
"aku tidak percaya padamu"
"Aku tidak cukup percaya diri untuk mempercayai kata kata itu"
"Kau sama putus asanya seperti aku, benarkan?"
"Baek Geun Woo, dimana kau? bagaimanapun perasaanmu, aku akan tetap menyukaimu"

Jeong Joo akhirnya menyerah.

1 Tahun Kemudian.

Seseorang dibelakang meja koki sedang mengasah 2 pisau, ada kain yang tersampir dipundaknya. Sepintas gerakan tubuhnya mirip Geun Woo, tapi bukan, dia bukan Geun Woo, dia Poong San, Chef baru di Maendorong Ttottot. Sekarang Chef Poong San punya 2 pegawai yang membantunya menjalankan restoran. Jeong Joo datang bersama Yoo Ja ahjumma dan membawa gurita hasil tangkapan ahjumma. Poong San bertanya kapan Jeong Joo akan menangkap gurita hasil tangkapannya sendiri. 
"aku akan pergi besok"
Tiba tiba ada suara memanggilnya. Hwang Wook datang dengan membawa seorang anak kecil lucu. iihh mirip Mirza. Jeong Joo memanggilnya bayiku. Dia bertanya apa Hwang Wook sudah mengambil foto saat disuntik vaksin tadi. Dan ternyata Hwang Wook lupa. Akhirnya dia berfoto bareng sibayi. 

Jeong Joo lalu mengantarkan bayi tadi kepada ayahnya.

Geun Woo ternyata sedang menyusuri jalanan pinggir pantai Jeju sambil berbicara dengan Jong Bae di ponsel. Geun Woo akan menemui ayah kandungnya karena diminta Jong Bae. Dia menginap di resort. Tapi berpesan pada sekretaris Jang tidak memberitahukannya pada Hyungnya.

Jeong Joo juga ke resort membawa bayi tadi. Didepan lift, bayinya menangis sehingga Jeong Joo harus menggendongnya. Saat Jeong Joo mengangkatnya, mainannya terjatuh dan dia tidak tahu. Jeong Joo masih berusaha menenangkan bayinya saat pintu lift terbuka dan Geun Woo ada didalam. Mereka berdua sama sama kaget.

Mungkin yang lebih kaget Geun Woo karena melihat Jeong Joo menggendong bayi. Geun Woo bertanya pelan kenapa dengan bayinya. Jeong Joo menjawab kalo bayinya sedang tidak sehat karena habis divaksin. Geun Woo lalu menyuruhnya masuk lift dan membantunya mendorong kereta bayi. "dia imut....dia mirip denganmu.." kata Geun Woo.

Lalu pintu lift tertutup. Diluar Geun Woo masih syok melihat Jeong Joo sudah menggendong bayi. Saat tahu mainan bayi Jeong Joo terjatuh, dia langsung berlari melewati tangga mengejar Jeong Joo. Tapi sayang, dia tidak menemukan Jeong Joo dikoridor lantai 3.

Bayi itu bernama Han Byeol, anak dari Jung Min, sepupu Jeong Joo dan Mi Na, teman Jeong Joo yang dulu sudah membohongi Jeong Joo dan lari ke Brazil.

Geun Woo, duduk di sofa dan masih galo tentang Jeong Joo. Dia berpikir kalo Jeong Joo memang punya anak pasti Poong san akan mengaplod gambarnya di SNS. Jadi dia membuka akun SNS Poong San dan langsung lesu melihat foto Jeong Joo dan Han Byeol nangkring disitu.

Jeong Joo menolak permintaan Mi Na untuk menjaga Han Byeol lagi dan pergi untuk mencari Geun Woo. Dia setengah berlari saat Geun Woo memanggilnya. Ternyata dari tadi, Geun Woo duduk disofa lantai 3 dan menunggu Jeong Joo. Geun Woo berkata kalo dia tahu bayi itu bernama Han Byeol dari SNS Poong San, dan dia mau tahu siapa nama terakhirnya. Apa itu bermarga Hwang?
"apakah itu mengganggumu, kalo kalo saja aku menikah dengan pak walikota?
Tapi Geun Woo mengelak dan memberikan mainannya kemudian berpamitan. Tapi Jeong Joo memanggilnya dan bertanya "Han Byeol sangat mirip denganku kan? semua orang mengatakan dia mirip denganku, mereka bilang dia tidak mirip ayahnya". Geun Woo rupanya masih penasaran dan bertanya siapa ayahnya. Jeong Joo menjawab kalo Geon Woo sudah pernah bertemu ayahnya Han Byeol, dulu.

Mereka minum berdua. Jeong Joo minta maaf pada Geun Woo.
"ak merasa buruk padamu selama ini, aku tidak mempercayai apa yang kau katakan dulu, aku tidak menyadari betpa tulusnya dirimu, aku minta maaf, kau tidak terluka kan? aku membalas pesanmu setahun yang lalu, tapi sepertinya kau tidak membacanya"
Jeong Joo minta Geun Woo datang ke Maendorong Ttottot. Dan Geun Woo menyita mainan Han Byeol sebagai jaminan. Lhaaa ini aslinya kan mereka memang pengin ketemu lagi hihihi.

Dikamar, Geun Woo mencari ponselnya dan marah marah saat diberitahu kalo pesan yang setahun kemarin tidak bisa dilihat lagi.

Jeong Joo curhat pada Poong San tentang pesan textnya setahun lalu yang tidak pernah terkirim  ke Geun Woo. Poong San malah menyuruhnya mengirim lagi pesan itu. Tapi Jeong Joo menolaknya.
"aku rasa dia melihat postinganmu di sosial media, dia juga melihat gambar Han Byeol, dia tidak tahu kalo dia keponakanku, jadi aku berpura pura kalo dia adalah bayiku, tapi dia tidak percaya padaku"

Poong San punya rencana sendiri.

Dan benar, Geun Woo terprovokasi oleh postingan foto Hwang Wook menggendong Han Byeol di SNS Poong San dan langsung mengelilingi lantai 3 hotelnya untuk mencari bayi itu. Dia tersenyum senang saat tahu kalo Han Byeol ternyata adalah keponakan Jeong Joo. Mi Na, yang tahu kalo dia itu Geun Woo, keceplosan bicara.
"Kau cinta pertamanya Jeong Joo, Pangeran sempurna berkuda hitam dihatinya Jeong Joo yang suram di mimpinya, Tidak banyak yang kami lakukan untuk Jeong Joo, tapi karena kami dia bisa menemui cinta pertamanya lagi"

Mi Na meminta Geun Woo merahasiakan apa yang dia katakan tadi dari Jeong Joo.

Hwang Wook memarahi 2 pegawainya karena mengungkit hubungannya dengan Jeong Joo dulu saat mereka melihat foto Hwang Wook menggendong Han Byeol. Hwang Wook minta agar mereka tidak menjodohkan nya lagi dengan Jeong Joo.

Sekretris Jang menjemput Hee Ra dan menuju hotel. Tapi karena dia diceramahi tentang kebiasaan minumnya oleh sekretaris Jang, Hee Ra jengkel dan minta diturunkan dipinggir jalan. Setelah Sekretaris Jang pergi, Hee Ra malah membeli minuman dan sekotak kacang, lalu duduk duduk dipinggir pantai. Hwang Wook yang sedang memunguti sampah, geleng geleng kepala melihat daerahnya dikotori Hee Ra. Dia lalu menyuruh Hee Ra pergi. Cuman Hee Ra ini kan bandel, dia malah mengejek Hwang Wook dan meneruskan makan kacangnya. Dan yak...dia keselek hihihi. Hwang Wook segera menolong dengan menepuk nepuk punggungnya sampai kacangnya keluar. Dan setelah itu dia menyuruh Hee Ra memunguti sampah yang dia buang tadi hihi. Hwang Wook bertanya ada apa dengannya.
"aku dicampakkan, aku sangat baik padanya, tapi dia bilang bukan aku orangnya, aku memukulnya, dan dia harus dirawat selama 8 minggu. Dia keluar dari rumah sakiit 8 minggu kemudian, tapi aku masih terluka. Hatiku tercabik cabik, jadi aku minum untuk menetralkan hatiku, Jadi kenapa"
Hee Ra bermaksud pergi, tapi Hwang Wook mencegahnya karena dia melihat rok Hee Ra sobek sedikit. Dia lalu melepas jaketnya dan memasangnya dipinggang Hee Ra. "Orang lain tidak bisa melihat hatimu yang tercabik, tapi bisa melihat bokongmu yang tercabik cabik, pergilah!" perintah Hwang Wook. Hee Ra heran dan bertanya siapa Hwang Wook.
"Aku adalah walikota kota ini. Kau benar benar harus dimarahi, tapi karena bokongmu dan juga hatimu tercabik cabik, aku melepaskanmu hari ini"
Hae Sil pulang ke Jeju karena mendengar Hee Ra kesana. Hae Sil menyuruh Jang untuk merahasiakan kepulangannya pada Hee Ra. Sekretaris Jang jadi puusing karena selalu disuruh menjaga rahasia seluruh keluarga itu.

Akhirnya Geun Woo tahu siapa yang meletakkan buket bunga dan kue berass dimakam ibunya. Jong Bae memberitahukan kalo Presdir Jin menyuruh orang melakukannya. Jong Bae juga berkata kalo mungkin bukan Presdir Jin yang menabrak suami Hae Sil.  Karena tipikal presdir Jin adalah mau berkorban demi wanita yang dia cintai. Tapi Geun Woo masih tidak percaya. Jong Bae bertanya apa dia akan menemui Jeong Joo.
"aku pikir aku jadi gila saat melihatnya menggendong bayi lagi, aku tidak akan menemuinya kali ini dan berpura pura dingin, tapi aku harus mengambil umpan tidak masuk akal itu dan menemuinya"
Geun Woo pergi ke Maendoron Ttottot. Jeong Joo dan Poong San senang melihatnya. Geun Woo membawa hadiah untuk Han Byeol, dan berkata kalo dia ingin bertemu ayah Han Byeol. Disana, kebetulan ada 2 pegawai Hwang Wook yang pernah dimarahi dulu. Dan mereka segera melapor pada Hwang Wook kalo Geun Woo salah mengira kalo dia adalah ayah Han Byeol.

Jeong Joo akhirnya mengaku kalo Han Byeol adalah keponakannya. Tapi Geun Woo ingin balas dendam dan berkata kalo mungkin Han Byeol adalah anaknya. Yoo Ja, Bok Nyeo, Poong San dan 2 pegawai Maendorong Ttottot terkejut dan melihat mereka. Jeong Joo kelabakan dan menarik Geun Woo ke kamar.

Diatas, Jeong Joo jengkel karena Geun Woo tetap menggodanya kalo ada 1 malam yang mungkin tidak diingatnya. Jeong Joo juga minta maaf karena tidak mempercayai kata katanya dulu dan membuat Geun Woo pergi.
"tentang malam itu, maafkan aku tidak mempercayai kata katamu, apa yang terjadi malam itu masih membuatku marah, aku dengar dari walikota bahwa kau menemuiku malam itu, kalo saja aku mengingat malam itu, aku akan lebih bersemangat menemuimu, maka aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi sendirian. Tidak bisakah kita membicarakan kesalahpahaman itu?"
Geun Woo menyuruh Jeong Joo untuk tidak mengingat kembali masa lalu karena karena dia sudah sibuk dengan restorannya. Dan Geun Woo pun pergi. Tapi saat sampai di depan, dia bertemu Hwang Wook yang memaksanya untuk menemaninya minum. Poong San melihat mereka pergi.

Sekarang ganti Jung Geun yang mengikuti Hae Sil pulang. Dia sudah menyuruh Sekretaris Jang untuk tidak memberitahu istrinya. Dia juga sudah menyiapkan banyak jadiah untuk istrinya tapi tidak diserahkan langsung. Jung Geun akan membuat Hae Sil mencari hadiah yang dia sembunyikan. Jadi seperti perburuan harta karun. Malamnya saat Hae Sil pulang, Jung Geun mematikan lampu dan mengendap endap mendekati istrinya. Hae Sil yang kaget lalu memukul wajah Jung Geun dengan tas hahaha. Gagal deh kejutannya.
Hae Sil memarahi suaminya karena selalu berusaha memberikan kejutan tapi selalu gagal. Jung Geun memberikan misi pencarian harta karun pada istrinya, tapi istrinya dengan tersenyum dan memegang pipi Jung Geun berkata "kau menaruhnya ditempat yang sangat jelas, ada disini mutiara hitamku..." ihiiyy....gombal banget Hae Sil. Dan Jung Geun tersenyum lebar.

Poong San memberitahu Jeong Joo kalo Hwang Wok mengajaka Geun Woo minum. Mereka takut kalo 2 orang itu akan berkelahi.

Ternyata mereka berdua sudah mabuk. Heang Wook malah memunta Geun Woo nemanggilnya "hyung". Hwang Wook juga bercerita kalo ada laki laki yang minta dikenalkan dengan Jeong Joo.
"Tepatnya ada 25 pria yang memintaku untuk dijodohkan dengan Jeong Joo. lima orang tampan sepertimu, tujuh dari mereka tinggi, dan dua orang bahkan super kaya"

Selesai minum, Hwang Wook mengantar Geun Woo yang sudah sangat mabuk ke Maendorong Ttottot. Dia bahkan sudah meminumkan obat untuk mabuk Geun Woo. Sebelum pergi, Hwang Wook meminta Jeong Joo untuk memperbaiki situasinya dengan Geun Woo.

Diluar, Hwang Wook membuang cincin yang dulu dia beli untuk melamat Jeong Joo ke laut.

Jeong Joo duduk disebelah Geun Woo yang nasih belum sadar. Dia mengulurkan tangannya dan membelai rambut Geun Woo. Tak lama kemudian, Geun Woo bangun. Dia melihat Jeong Joo dan tersenyum mabuk.
"Ini Jeong Joo, Jeong Joo~a, aku merindukanmu, aku nmemikirkanmu selama ini, aku benar benar ingin bertemu denganmu, Lee Jeong Joo, aku mencintaimu"
Jeong Joo berkaca kaca dan berkata kalo dia juga merindukan Geun Woo. Tangan Geun Woo membelai pipi Jeong Joo, dan dia hampir menangis saat berbisik "aku mencintaimu". Lalu dia tidur lagi ditemani Jeong Joo yang tersenyum dan terus memegang tangannya.

Paginya, Geun Woo bangun dan sudah ada di kamar hotelnya. Dia merasa kalo semalam dia menemui Jeong Joo, tapi dia tidak yakin. Ponselnya berbunyi, dari Ji Won. JI Won minta bertemu untuk membicarakan tentang tempat pernikahannya dengan Joon. Geun Woo tidak mau, dia bahkan juga melarang Ji Won pergi ke kamar hotelnya.

Geun Woo penasaran apa sekretris Jang menunggunya saat dia tidur karena ada selimut yang tersampir dikursi. Saat dia akan menelpon sekretaris Jang, dia melihat tangannya ditempeli hansaplast.
Geun Woo penasaran siapa yang berbuat itu.

Ternyata Jeong Joo yang melakukannya. Dia juga menunggu Geun Woo di kamar sampai pagi sebelum akhirnya pergi ke kamar Mi Na untuk memberikan kado Geun Woo pada Han Byeol.

Geun Woo bermaksud menelpon sekretaris Jang dan bertanya apa yang terjadi semalam. Tapi ternyata yang menerima telpnya adalah Jung Geun yang meminta Geun Woo menemuinya. Jung Geun tidak mau adiknya pergi lagi. Dia meminta Geun Woo tinggal disini.
"Kalo kau mau tinggal di Jeju, tinggalah disini, aku berencana pindah ke Jepang bersama istriku, aku akan tinggal disana dengan alasan membeli resort baru di Okinawa"
Jung Geun juga akan menceritakan tentang ayah Geun Woo pada Hae Sil dan berharap istrinya itu akan bisa mengerti situasinya. Tapi Geun Woo tetap pesimis. Dia merasa kalo dia harus pergi. Saat Geun Woo keluar, dia sebenarnya berpapasan dengan Hae Sil, tapi dia tidak tahu, hanya Hae Sil melihatnya. Hae Sil bertanya pada Jung Geun apa adiknya datang. Jung Geun berbohong, tapi dia berjanji kan menceritakan semuanya.

Geun Woo menemui Jong Bae dan mengabaikan keinginan Jong Bae agar Geun Woo menunggu sedikit lagi sampai ayahnya menghubungi. Geun Woo berpamitan karena dia akan pergi hari itu.

Hee Ra mengajak Boo Mi Ra ke coffee shop. Dia bertanya apa sulit masuk ke sekolah penyelam wanita, karena dia sedikit tertarik. Tak lama Hwang Wook datang. Hee Ra tersenyum dan terus melihatnya. Mi Ra berkata kalo Hee Ra sudah pernah bertemu dengan Hwang Wook di parnikahan kakaknya. Dia berusaha mengingat Hwang Wook. Ternyata dia pernah melihat Hwang Wook menangis di gudang anggur Maendorong Ttottot.

Hae Sil turun dari kantor Jung Geun dan berjalan keluar. Di lobi dia bertemu Jeong Joo yang baru dari Han Byeol. Dia bertanya apa pada Jeong Joo apa Geun Woo ada di Jeju. Dia juga minta Jeong Joo memberitahu Geun Woo kalo dia ingin bertemu.

Geun Woo ternyata pergi ke Maendorong Ttottot. Di meja, dia menemukan hansaplast yang sama dengan yang dia pakai. Dia sadar kalo ternyata Jeong Joo yang memasang hansaplast itu ditangannya.

Jeong Joo sampai depan pintu kamar hotel. Dengan tersenyum dia memencet bel. Dan yang keluar adalah Ji Won. Jeong Joo kaget tapi tetap mengikuti Ji Won masuk kamar.
"Geun Woo dan aku bertemu di New York, kami juga kembali ke Korea bersama sama, kurasa kau tidak tahu, aku akan menikah di Jeju, kurasa Geun Woo tidak memberitahumu"
Jeong Joo kaget. Dia juga melihat cincin tunangan di jari Ji Won. Tapi Jeong Joo tidak percayaa begitu saja dengan kata katanya."Kau akan menikah dengan siapa? Kau tidak akan menikah dengan Geun Woo, jadi kenapa kau berbicara seperti itu? apakah menyenangkan bagimu kalo aku salah mengambil kesimpulan? aku sudah lama menunggumu untuk memberimu pelajaran, tapi aku menyerah karena aku pikir kita tidak akan bertemu lagi, tapi bagaimana kita bisa bertemu lagi disini?, hanya karena kau berada dikamarnya Geun Woo, kau pikir aku salah berpikir? Geun Woo sangat menyukaiku, Geun Woo dan aku bersama tadi malam!, kau pikir siapa yang kau bodohi?  Pergilah selagi aku masih baik padamu, aku bilang pergi!!!"

Dan Ji Won diusir oleh Jeong Joo hihi.

Jeong Joo menggeledah kamar Geun Woo tapi tidak bisa menemukan tas kopernya. Jong Bae menelpon dan berkata kalo Geun Woo akan pergi sekarang. Jeong Joo lalu mengejarnya.

Jeong Joo dengan lesu kembali ke Maendorong Ttottot. Sepertinya dia tidak bisa menemui Geun Woo.  Dia mengirim lagi pesan setahun lalu yang tidak diterima Geun Woo, tapi dia tidak berharap pesan tadi akan diterima Geun Woo. Makanya Jeong Joo kaget saat pesan tadi diterima dan dibaca Geun Woo.
"apa kau pergi?"
"apa kau pergi bajingan?"
"kau tidak ingat apa yang kau katakan tadi malam kan?"
"aku ingat semuanya"
"dimana kau?"


Geun Woo tidak membalas pesannya karena dia ada dibelakang Jeong Joo dan lalu duduk di sebelahnya. Jeong Joo kaget, apalagi saat Geun Woo berkata kalo dia ingat semua yang dia katakan saat mabuk. Dan sekarang, karena dia sudah sadar, Geun Woo mau Jeong Joo mendengarnya lagi. Geun Woo memegang pipi Jeong Joo dan berkata "Jeong Joo, aku mencintaimu".

Tinggal 1 episode lagi yaaa....Tungguin......